JANGAN LUPA KOMEN NYA :)
PROPOSAL
PENELITIAN HAMA PADA KENTANG
DISUSUN
OLEH
RIYAN GUSRIYADI
XII ATP
SMA 1 RENGAT
T.P 2015/ 2016
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah, hanya
kepada-Nya kita memuji, memohon pertolongan dan meminta ampunan. Kita
berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu dan keburukan amal perbuatan kita.
Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada seorang pun yang dapat
menyesatkannnya. Sebaliknya, barang siapa yang disesatkan-Nya, maka tiada
seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.
Kami hanya dapat berdoa, kiranya apa yang saya
tulis disini bermanfaat bagi kita semua. Ucapan terima kasih kepada semua pihak
yang telah mendukung dan membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Kami sadar bahwa apa yang kami tulis masih sangat
jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kritikan dan saran yang sifatnya membangun
dari para pembaca sangat saya harapkan.
Akhir kata, mohon maaf apabila
terdapat banyak kesalahan dalam makalah ini. Dan hanya kepada Allah swt kita
berlindung dan memohon ampun.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………….……………. i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................. 1
1.1.Latar Belakang.................................................................................................. 1
1.2. Tujuan
Penelitian ............................................................................................. 3
1.3.Tujuan
Penelitian............................................................................................... 3
1.4.Kegunaan
Penelitian.......................................................................................... 3
1.5.Hipotesis
Penelitian............................................................................................ 4
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA................................................................................... 5
2.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman
Kentang.......................................... 5
2.2. Taksonomi dan Morfologi Tanaman Kentang................................................... 7
2.3.Pupuk
Organik.................................................................................................. 9
2.4. Trichoderma sp............................................................................................... 11
BAB III METODE
PENELITIAN................................................................................. 14
3.1. Waktu dan Tempat........................................................................................... 14
3.2. Alat dan Bahan ................................................................................................ 14
3.3.Rancangan dan
Analisis Data............................................................................. 14
3.4.Prosedur
pelaksanaan........................................................................................ 15
3.5. Variabel
Pengamatan........................................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 19
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Kentang (Solanum
tuberosum L) adalah tanaman
sayuran penghasil umbi dari famili Solanacea. Pengembangan
agribisnis kentang sangat strategis, karena dapat meningkatkan pendapatan dan
taraf hidup petani, menunjang program penganekaragaman (diversifikasi) pangan. Keadaan tersebut mengakibatkan
permintaan pasar meningkat maka perlu perluasan areal penanaman kentang di
dataran medium (Setiadi, 2003). Subhan dan Asandhi (1998) menyatakan bahwa
budidaya kentang di dataran tinggi secara terus menerus dapat merusak lingkungan terutama terjadinya
erosi dan menurunkan produktivitas tanah. Perluasan areal penanaman kentang di daerah dataran tinggi merupakan salah satu langkah yang
dapat diupayakan untuk
membantu peningkatan pendapatan petani di daerah tersebut (Suryanto, 2003).
Budidaya kentang di dataran tinggi tidak lepas dari
kendala-kendala yang dihadapi, diantaranya adalah faktor pemupukan. Asandhi (1996) dalam Lehar (2012) menyatakan bahwa pengembangan produksi kentang
di dataran tinggi (1.631 m dpl) menghadapi beberapa kendala seperti suhu
tinggi, serangan Phythopthora
infestans dan Nematoda Sista Kuning (NSK) dan pola tanam yang memerlukan perbaikan.
Penggunaan pupuk anorganik untuk memacu produktivitas tanaman ternyata mengakibatkan tertinggalnya residu
pada tanah sehingga kadar bahan anorganik tanah turun. Pemanfaatan bahan organic pupuk
dilakukan untuk memperbaiki sifat fisik tanah. Bahan organik tersebut dapat berupa
pupuk kandang dan pupuk kompos yang mana dekomposisi bahan organik tersebut
memungkinkan pembentukan agregat tanah yang selanjutnya akan memperbaiki
peredaran udara tanah (Lehar, dkk, 2012).
Luas panen kentang berdasarkan
Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal
Hortikultura Propinsi Nusa
Tenggara Timur dari
tahun 2008-2012 yaitu 323 (ha),
162 (ha), 129 (ha),
41(ha), 85(ha). Data produksi dari Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura Propinsi Nusa Tenggara Timur dari tahun 2007-2011 untuk (ton) yaitu 1.288,
3.068, 1.476, 542, 162. Rendahnya
hasil tanaman kentang di NTT antara
lain disebabkan karena penggunaan pupuk dan sistem
budidaya yang masih sederhana dan ketergantungan petani pada penggunaan pupuk anorganik dan penggunaan bahan kimia dalam pengendalian organisme penganggu tanaman.
Salah satu upaya untuk mencapai hasil tanaman kentang
yang optimal dengan tetap mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah serta
menghindarkan dampak yang merugikan dari penggunaan pupuk anorganik yang
berlebihan dengan pemberian pupuk organik yang berasal dari
pupuk kandang dan pupuk organik lain dalam bentuk cair. Pupuk organik
membantu memperbaiki kesuburan tanah dan memberikan kandungan hara tanah,
akibat terjadi penguraian lebih lanjut secara fisik, kimia maupun biologi tanah
(Najamuddin dan Akil, 2006)
Hama dan penyakit yang dilakukan hanya sebatas pada
sanitasi untuk mendukung perkembangan tanaman, karena
pengendalian secara kimia mahal. Selain itu, penggunaan senyawa kimia
bukan merupakan alternatif yang terbaik, karena sifat racun yang terdapat dalam
senyawa tersebut dapat meracuni manusia, ternak piaraan serangga penyerbuk
musuh alami tanaman serta lingkungan yang dapat menimbulkan polusi bahkan
pemakian dosis yang tidak tepat bisa membuat hama dan penyakit menjadi resisten. Penggunaan
mikroorganisme antagonis sebagai agen pengendali hayati seperti Trichoderma sp memberikan harapan karena
mampu mengendalikan patogen dan mempercepat proses dekomposer bahan
organik dalam tanah (Ernawati, 2003).
Wijaya (2002) menyatakan bahwa pemberian
Trichoderma sp secara
langsung pada kondisi kecukupan
bahan organik dari pupuk organik, baik itu pupuk organik padat maupun pupuk
organik cair maka
Trichoderma sp dapat
memperbanyak diri dan menembus sistem perakaran. Kondisi ini menghasilkan mekanisme partahanan
tanaman tertentu sehingga memperkuat
sistem pertahanan tanaman melawan serangan patogen.
1.2. Perumusan Masalah
Masalah
yang diteliti pada penelitian ini adalah
apakah pemberian pupuk organik dan Trichoderma
sp dapat meningkatkan
pertumbuhan dan hasil kentang.
1.3.Tujuan
Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui pengaruh jenis pupuk organik tertentu dan Trichoderma sp,
terhadap pertumbuhan dan hasil kentang.
1.4.Kegunaan
Penelitian
Penelitian diharapkan sebagai bahan informasi dan masukan bagi masyarakat dalam
mengusahakan budidaya tanaman
kentang dan informasi untuk penelitian lanjutan.
1.5.Hipotesis
Penelitian
Hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh pemberian pupuk organik tertentu dan Trichoderma
sp terhadap pertumbuhan dan
hasil kentang.
.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman
Kentang
Tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) ialah
tanaman semusim yang berbentuk semak. Kentang termasuk tanaman yang dapat
tumbuh di daerah tropika dan subtropika, dapat tumbuh di ketinggian 500-3000 m
dpl.
Permadi et al. (1989) menyatakan bahwa ada tiga tahap pertumbuhan tanaman
kentang yaitu (1) tahap dari umbi bibit ditanam
sampai menjadi tanaman muda, (2) tahapan dimulainya pertumbuhan autropi dimana
pertumbuhan tanaman di bagian atas tanah mendominasi semua pertumbuhan, dan
(3) tahapan dimulai pembentukan umbi yang berlangsung sampai tanaman menua dan
mati.
Ashari (1995) menyatakan bahwa tanaman
kentang memiliki lima tahap pertumbuhan yaitu (1) tahap
pertumbuhan tunas, pada tahap ini mata tunas umbi mulai aktif tumbuh menembus
permukaan tanah dan akar adventif tumbuh pada dasar mata tunas, (2) tahap
pertumbuhan vegetatif, pada tahap kedua ini daun dan cabang
tanaman utama mulai tumbuh dan berkembang, akar juga berkembang dan stolon
mulai tumbuh demikian juga proses fotosintesis mulai aktif, (3) tahap
pertumbuhan umbi, pada tahap ini umbi kentang mulai terbentuk pada ujung akar
stolon namun belum berkembang secara aktif, (4) tahap pertumbuhan dan
pembesaran umbi, pada tahap ini sel pada umbi mulai aktif tumbuh dan berfungsi
sebagai penyimpan pati, air dan nutrisi lain, selanjutnya umbi menjadi organ
dominan sebagai tempat penyimpan karbohidrat serta nutrisi anorganik, dan (5)
tahap pemasakan, pada tahap ini tanaman mulai layu, daun menguning dan mulai
rontok, pertumbuhan umbi lambat dan batang tanaman mulai mati.
Soelarso (1997) menyatakan bahwa ada
tiga stadium pertumbuhan tanaman kentang yaitu (1) stadium
ini terjadi 12-13 hari setelah penanaman, tunas akan muncul dipermukaan
tanah bersamaan tumbunya stolon, sekitar 25 hari setelah bertunas, stolon
mencapai jumlah terbanyak setelah stadium primordia bunga, batas umbi akan
memanjang dengan cepat (2) stadium tertinggi pertumbuhan, stadium ini terjadi
pada 10-20 hari setelah tunas tumbuh, bentuk primordia bunga sudah dapat
dilihat, ujung stolon mulai membentuk umbi, sekitar 20-25 hari setelah
bertunas, umbi mulai membesar dan pada stadium ini jumlah umbi kentang sudah
dapat diperhitungkan, umbi akan terus membesar sampai daun-daun mati,
pertumbuhan batang paling aktif adalah pada sekitar 25-30 hari setelah
bertunas, biasanya pertumbuhan batang terhenti pada 45-50 hari setelah
bertunas, pada saat tersebut jumlah penyerapan air sangat tinggi jika air tidak
mencukupi pertumbuhan tananaman akan turun dan hasil juga akan turun (3) stadium penyempurnaan umbi,
stadium ini terjadi sekitar 70-80 hari setelah bertunas, daun umumnya mulai
menguning dan sekitar 10 hari kemudian mati, pembesaran umbi dapat berlangsung
sampai daun mati, kentang yang telah dipanen akan memasuki masa dormansi.
Suwandi et al. (1998) menyatakan bahwa tanaman kentang dapat tumbuh dengan
baik dan berproduksi, apabila ditanam pada keadaan lingkungan yang sesuai
dengan persyaratan tumbuhnya.
Selanjutnya Ashari (1995)
menyatakan bahwa tanaman kentang dapat tumbuh pada beberapa jenis tanah, namun
demikian tidak semua tanah dapat memberikan keuntungan yang sama. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah pH, larutan
garam, unsur hara, dan tekstur tanah (proporsi liat dan bahan organik, pasir
dan sebagainya) serta kondisi fisik tanah (terutama kekompakan tanah), pH tanah yang
sesuai untuk penanaman kentang 6-7.
Tanaman kentang tumbuh dengan baik di daerah beriklim sedang atau
dataran tinggi dengan tanah gembur sehingga merupakan kondisi yang tepat untuk
pembentukan umbi.
Asandhi, et al. (1985) dan Sunarjono
(2007) menyatakan bahwa tanaman kentang dapat tumbuh dan berproduksi baik pada
dataran tinggi 500-3000 m dpl, dan yang
terbaik pada ketinggian 1300 m dpl. Selanjutnya Pitojo (2004) menyatakan bahwa di Indonesia, tanaman kentang dapat tumbuh dengan
baik mulai di daerah dataran medium sampai dataran tinggi yang memilki ketinggian
antara 500-300 m dpl.
2.2. Taksonomi dan Morfologi Tanaman Kentang
Kalasifikasi tanaman kentang
menurut Rukmana (1997) sebagai berikut:
|
Kingdom
|
:
|
Plantae
|
|
Divisi
|
:
|
Spermatophyta
|
|
Sub devisi
|
:
|
Angiospermae
|
|
Kelas
|
:
|
Dicotyledoneae
|
|
Ordo
|
:
|
Tubiflorae
|
|
Famili
|
:
|
Solanaceae
|
|
Genus
|
:
|
Solanum
|
|
Spesies
|
:
|
Solanum tuberosum L.
|
Morfologi tanaman kentang menurut Samadi, (2007) sebagai
berikut:
a. Batang
Batang
berbentuk segi empat atau segi lima, tergantung varietasnya. Batang kentang
tidak berkayu dan bertekstur agak keras dengan permukaan batang halus, umumnya lemah hingga mudah roboh bila terkena angin kencang. Warna batang
umunya hijau tua dengan pigmen ungu. Batang bercabang dan setiap cabang
ditumbuhi oleh daun-daun yang rimbun. Ruas batang tempat tumbuhnya cabang
mengalami penebalan. Batang berfungsi sebagai jalan zat-zat hara dari tanah ke
daun dan menyalurkan
hasil fotosintesis dari daun ke bagian tanaman yang lain.
b. Daun
Daun tanaman
berfungsi sebagai tempat proses asimilasi dalam rangka pembentukan
karbonhidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Hasil dari fotosintesis atau
asimilasi digunakan dalam bentuk vegetatif, pertumbuhan generatif, respirasi
dan persediaan makanan (Samadi, 2007).
c. Akar
Tanaman kentang memiliki perakaran tunggang dan serabut. Akar tunggang menembus tanah sampai kedalaman 45
cm, dan akar serabut
tumbuh menyebar ke arah samping. Akar berwarna keputih-putihan dan berukuran
sangat kecil. Di antara akar-akar ada yang nantinya berubah bentuk dan fungsi
menjadi bakal umbi (stolon) yang selanjutnya menjadi umbi kentang. Akar tanaman
berfungsi menyerap zat-zat hara dan untuk memperkokoh berdirinya tanaman.
d. Bunga
Tanaman kentang
ada yang berbunga ada yang tidak tergantung varietasnya. Warna bunga pun bervariasi. Bunga kentang tumbuh dari ketiak
daun. Jumlah tandan juga bervariasi. Bunga kentang berjenis kelamin dua. Bunga
yang telah mengalami penyerbukan akan menghasilkan buah dan biji. Buah berbentuk
buni dan di dalamnya terdapat banyak biji.
e. Stolon dan umbi Kentang
Umbi kentang
secara morfologis merupakan modifikasi dari batang dan merupakan organ penyimpanan makanan utama bagi
tanaman. Sebuah umbi mempunyai dua ujung, yaitu heel yang berhubungan dengan stolon dan ujung lawannya disebut apical/distal/rose
(Soelarso, 1997). Mata umbi kentang sebenarnya adalah buku dari batang.
Jumlah mata umbi 2-14 buah, tergantung pada ukuran umbi. Mata umbi tersusun
dalam lingkaran spiral.
2.3.Pupuk Organik
Pupuk organik ialah
pupuk yang berasal dari sisa-sisa tanaman atau
kotoran hewan yang dikembalikan ke tanah
dan mengalami proses penghancuran di alam (Hardjowijeno, 1992). Pupuk organik berasal dari pelapukan
bahan-bahan organik tanaman dan hewan
yang berguna sebagai sumber hara bagi tanaman serta sumber energi bagi
organisme tanah (Poerwowidodo, 1993). Keuntungan pemberian pupuk organik yaitu unsur hara yang dibebaskan secara
bertahap selama proses penguraian bahan organik (Poerwowidodo, 1993). Penyediaan hara dapat terjadi sepanjang musim
selama proses penghancuran bahan organik berlangsung maka akan terjadi
meningkatnya KTK tanah, penurunan fiksasi P, penurunan keasaman
tanah dan menambah unsur hara mikro (Utami, 2002). Hairiah et al., (1996) menyatakan pemanfaatan
bahan organik penting dalam memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Keadaan tanah
yang optimal bagi pertumbuhan tanaman diperlukan bahan organik tanah paling
sedikit 2%.
Darung (1998) menyatakan bahwa penggunaan pupuk kandang
(kotoran ayam dan kotoran sapi) mendatangkan manfaat terhadap pertumbuhan
dan hasil panen tanaman kedelai. Najamuddin et al., (2006) menyatakan bahwa
pupuk kandang dengan takaran 3 ton/ha nyata lebih baik pengaruhnya
terhadap pertumbuhan maupun biomasa tanaman jagung tertinggi 64 ton/ha pada umur 70
hari setelah tanam, dengan keuntungan sebesar Rp. 2.000.034/ha.
Pupuk organik juga ada yang dalam bentuk cair yang biasa
diberikan melalui daun untuk menambah dan menyempurnakan pemberian
pupuk melalui akar atau tanah terutama dalam keadaan tertentu dimana
daya serapan akar terhadap unsur-unsur hara berkurang karena tercuci atau
terikat oleh partikel tanah (Subhan, 1990). Pupuk organik
cair mengandung unsur hara makro dan mikro, adapula yang mengandung tambahan
berupa zat pengatur tumbuh. Zat pengatur
tumbuh merupakan senyawa organik, tidak termasuk nutrisi, yang pada konsentrasi
aplikasi sangat rendah mampu merangsang, menghambat atau atau memodifikasi berbagai
proses fisiologis tanaman. Nutrisi
didefinisikan sebagai bahan yang menyuplai tanaman dalam bentuk energi atau
elemen mineral penting (Weaver, 1972 dalam
Sumiati, 2000).
Subhan (1990) menyatakan bahwa
pengunaan pupuk cair Bayfolan yang memilki komposisi 11% N, 10 % P2O5,
6 % K2O serta dilengkapi unsur hara mikro Fe, Mn, Cu, Zn, Co, No,
gelatin dan zat penyangga, pada tanaman kentang varietas Granola memberikan
hasil bahwa perlakuan waktu dan konsentrasi memberikan pengaruh terhadap bobot
umbi tanaman dimana dengan waktu pemberian
satu minggu satu kali dan satu minggu dua kali memberikan rata-rata
bobot umbi tertinggi sedangkan perlakuan konsentrasi yang memberikan bobot umbi
tertinggi adalah 1 cc/l air dan 2 cc/l air.
Perlakuan waktu dan konsentrasi pemberian pupuk daun memberikan pengaruh
terhadap tinggi tanaman pada umur 45 hst tetapi tidak berbeda terhadap tinggi
tanaman pada umur 60, 75, dan 90 hst dari tiap-tiap perlakuan.
Santoso (1994) menyatakan bahwa, penggunaan 10 ton ha
pupuk kotoran ayam dapat meningkatkan hasil tanaman kentang sekitar 28%
dibanding tanpa dipupuk kotoran ayam yang mencapai hasil sekitar 15,4 ton umbi
ha. Selanjutnya Darung (1998) menyatakan
bahwa penggunaan pupuk kandang (kotoran ayam dan kotoran sapi) mendatangkan manfaat
terhadap pertumbuhan dan hasil panen tanaman kedelai.
2.4. Trichoderma
sp
Trichoderma sp ialah mikroorganisme antagonis yang penting
dari golongan jamur/cendawan yang menghasilkan khitinase (Tsujibo, et al., 1992 dalam Wijaya, 2002). Khitinase dan enzim-enzim hidrolitik
lainnya yang dihasilkan oleh mikroorganisme antagonis Trichoderma
sp merupakan gen-gen yang
menyediakan enzim hidrolitik yang dapat melemahkan dan menghidrolisis dinding
sel patogen yang mengandung senyawa glucan,
chitin dan protein dan dapat
menimbulkan ketahanan tanaman terhadap serangan patogen melalui kemampuannya menonaktifkan
kemampuan patogen memperbanyak diri, menyebar dan membentuk
reaksi hipersensitif untuk melokalisasi serangan
Khitinase dari mikroorganisme antagonis Trichoderma sp
menghasilkan ketahanan pada tanaman transgenik terhadap serangan patogen
disebabkan kemampuan khitinase dalam menghidrolisis dinding sel jamur yang
penyusun utamanya terdiri dari senyawa glucan,
chitin dan protein (van Loon and van Strein, 1999, Odjakova and Hadjivanova, 2001;
Hidalgo, 2004;). Selain
menghasilkan khitinase, Trichoderma sp dapat
menghasilkan glukanase yang merupakan
enzim yang menghidrolisis ß–1,3 glukan, yang merupakan
komponen utama penyusun dinding sel jamur dan bakteri (Chlan et al., 2001; Kollar et al., 1997).
Boing (1982) dalam Wijaya (2002) menyatakan bahwa keberadaan suatu substrat
dapat memacu suatu mikroorganisme untuk mensekresi metabolit selnya. Selain khitin, dinding sel jamur juga
tersusun atas ß–1,3 glukan sebagai komponen kerangka sel dan α-glukan sebagai
komponen yang berfungsi menguatkan sel.
Selanjutnya Thrane, et al., (1997) menyatakan bahwa aktifitas ß–1,3 glukanase
ketika ditumbuhkan bersama dengan sel jamur antagonis Pitheum ultimum, yang merupakan jamur antagonis dari Trichoderma harzianum.
Lorito, et al., (1994)
menyatakan bahwa enzim khitinase yang dihasilkan Trichoderma sp terbukti lebih efektif dari pada enzim khitinase
yang dihasilkan oleh organisme lain dalam menghambat berbagai jamur patogen
tanaman.
Penggunaan mikroorganisme antagonis
terhadap P. solanacearum sudah banyak
dilakukan pada berbagai jenis tanaman baik secara percobaan di laboratorium
maupun di lapang. Populasi P.
solanacearum penyebab penyakit layu pada kentang, dapat ditekan dengan
menggunakan Trichoderma sp. sebesar
36% (Gunawan, 1995). Trichoderma sp
juga berpotensi mengendalikan P.
solanacearum pada tanaman tomat
(menekan 23,4 –100%), dan kacang tanah (menekan 57,8 –71,1%) ( Ernawati
2003).
Tarno et al., (2007) menyatakan bahwa pemberian 149,1 g serbuk kulit
udang/pot (kitin 1%) mampu menekan populasi sista, juga ditemukan bahwa ada tiga spesies jamur tanah
yang berpotensi dapat menekan populasi Nematoda Sista Kuning (NSK), yakni Paecilomyces sp, Trichoderma sp, dan Glioclaudium sp.
Purwantisari (2007) menyatakan bahwa
biofungisida yang ramah lingkungan, ialah biofungisida trichodermin dan
gliocladin yang bahan bakunya terdiri dari bahan aktif dari makhluk hidup
berupa konidia beberapa jenis jamur isolat lokal (indigenous). Beberapa jenis jamur isolat lokal yang telah berhasil
dikemas dan diaplikasikan sebagai bahan baku biofungisida tersebut adalah Trichoderma harzianum, gliocladium sp, aspergillus niger. Keunggulannya adalah sebagai pengendali
hayati (biokontrol) penyakit yang disebabkan oleh jamur yang menyerang
tanaman palawija, sayuran, dan buah-buahan.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian
ini akan dilaksanakan
pada bulan Mei sampai Agustus 2013, bertempat di kebun petani Desa Nuamuri, Kecamatan
Kelimutu Kabupaten Ende. Lahan percobaan tersebut berada pada
ketinggian 1.631 m dpl, jenis tanah Andosol. Perbedaan amplitudo suhu harian
rata-rata berada dalam ambang 60°C, dimana suhu
terpanas pada siang hari adalah 33°C dan suhu udara malam hari memiliki suhu
terendah pada titik 23°C. Kelembaban
nisbi berada dalam kisaran rata-rata 85%. dengan rata-rata curah hujan per
tahun 2.171 mm.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan antara lain
cangkul, parang, tangki semprot, timbangan, gelas
ukur, pengaris, buku, dan alat tulis
Bahan percobaan
meliputi bibit kentang varietas Granola, pupuk
organik kotoran ayam, kotoran sapi, pupuk organik cair Biota Plus, pupuk
organik cair K Bioboost, Trichoderma sp, fungisida Funiram 80 W dan pupuk
anorganik N, P, K Phonska. Bibit kentang didapat dari petani kentang
di Desa Nuamuri, Kecamatan Kelimutu, abupaten Ende.
3.3. Rancangan dan Analisis Data
Rancangan percobaan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Rancangan Petak Terbagi (RPT), terdiri dari dua
faktor yang diulangi 3 kali.
Faktor pertama sebagai petak utama ialah agen hayati (Trichoderma sp).
T0=
Kontrol (Fungisida anorganik)
T1=
Agen hayati (Trichoderma sp)
Faktor kedua sebagai anak petak ialah :
P1= Kotoran ayam 20 ton ha (20.000.kg :
10.000. x 5(luas lahan)=10kg/bedeng
P2= Kotoran sapi 20 ton ha (20.000.kg : 10.000.
x 5(luas lahan)=10kg/bedeng
P3=
Pupuk Biota Plus
P4=
Pupuk organik cair K Biobosst
P5= Pupuk standar
NPK Phonska 250 kg ha=(250:10.000. x 5(luas lahan)=5g/bedeng
Sehingga ada 10 kombinasi perlakuan
dengan jumlah keseluruhan 30 petak percobaan. Tata letak
petak pengamatan dapat dilihat pada Lampiran 1.Untuk
mengetahui pengaruh perlakuan yang diberikan, data hasil penelitian dianalisis
dengan analisis ragam yang dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf
5%,
3.4.Prosedur pelaksanaan
Kegiatan penelitian meliputi
tahap-tahap sebagai berikut:
1.
Persiapan bahan
tanam
Bahan tanam yang digunakan ialah bibit
umbi kentang bertunas varietas Granola
yang berukuran ± 25 gram.
2.
Persiapan lahan
Lahan diolah dengan dicangkul hingga
gembur dan bersih dari gulma, kedalaman olah yaitu 30-40 cm. Bedengan dibuat dengan
ukuran 1 x 5 m. Dan tinggi
bedeng 30 cm, jarak antar bedeng 30 cm.
3.
Penanaman
Bedengan disiram secukupnya kemudian dibuatkan lubang
tanam dengan kedalaman 5 cm dengan jarak tanam 50 x 40 cm untuk
penaman bibit kentang. Selanjutnya bibit ditanam kemudian ditutup dengan tanah
3.4.1. Teknik Pemberian Pupuk Organik dan Trichoderma sp
Pemberian pupuk
organik dan agen Trichoderma sp sebagai
berikut:
1.
Pemberian pupuk
kotoran sapi
Pupuk kotoran sapi diberikan satu kali yaitu satu minggu
sebelum penanaman dengan cara ditebarkan secara merata pada bedengan percobaan
dengan dosis 10 kg/bedengan percobaan.
2.
Kotoran ayam
Pupuk kotoran ayam diberikan satu kali yaitu satu minggu sebelum
penanaman dengan cara ditebarkan secara merata pada bedengan percobaan dengan
dosis 10 kg/bedengan percobaan.
3.
Pemberian pupuk
organik cair Biota Pluss
Pupuk organik cair Biota Pluss diberikan
setelah tanaman berumur 14 hari setelah tanam, selanjutnya
setiap 10 hari sampai tanaman berumur 70 hari
setelah tanam dengan konsentrasi 3 cc / 10 liter air.
4.
Pemberian pupuk
organik cair K Biobosst
Pupuk organik
cair K Biobosst diberikan setelah tanaman berumur 14 hari setelah tanam, selanjutnya
setiap 10 hari sampai tanaman berumur 70 hari
setelah tanam dengan konsentrasi 3 cc / 10 liter air.
5.
Pemberian pupuk
standar NPK
Phonska
Pupuk standar
NPK Phonska diberikan setelah tanaman berumur 14 hari setelah tanam,
selanjutnya setiap 10 hari sampai tanaman berumur 70 hari setelah tanam dengan
dosis 5 gram/bedeng.
6.
Pemberian Trichoderma sp
Trichoderma sp diberikan
satu minggu sebelum tanam dan setelah tanaman tumbuh diberikan setiap dua hari
sekali sampai tanaman berumur 70 hari setelah tanam dengan cara disiramkan ke
tanah dengan dosis 10 cc / liter air dengan
jumlah populasi mikroba 5,8 x 109 per satu ml
3.4.2.Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan
tanaman adalah sebagai berikut: penyiraman,
penyiangan dan pembumbunan.
a.
Penyiraman
Tanaman disiram 2 kali seminggu, jika media masih basah
tidak perlu disiram.
b.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan bersamaan dengan pembumbunan,
pembumbunan dilakukan 30 hari setelah tanam dengan cara menimbun bagian
pangkal tanaman dengan tanah hingga terbentuk guludan–guludan yang lebih tinggi
dari tanah di sekelilingnya.
Pembumbunan selanjutnya melihat kedaan pertumbuhan tanaman di lapangan.
3.4.3. Panen
Panen dilakukan jika
tanaman sudah menguning dan mengering daunnya, batang berwarna coklat
kekuningan atau batang sudah agak kering dan umbi tidak mudah lecet. Kentang Granola di panen pada saat berumur
115 hari setelah tanam. Sebelum panen tanaman
kentang dipangkas sampai pangkal batang di atas permukaan
tanah dan dibiarkan selama 2 minggu, kemudian umbi dipanen dengan cara digaru
mengunakan tangan dan diambil hati-hati agar umbi tidak terluka.
3.5. Variabel Pengamatan
Variabel pengamatan dalam penelitian ini ada 2 yaitu
variabel utama dan variabel pendukung. Variabel utama meliputi:
a.
Karakter pertumbuhan tanaman secara non
dekstruktif yaitu:
1.
Jumlah daun dihitung pada
empat minggu setelah tanam, minggu keenam dan pada minggu kedelapan dari
jumlah daun yang sudah membuka
sempurna.
2.
Jumlah cabang
dihitung yang telah terbentuk sempurna, pada minggu keempat, keenam dan
kedelapan.
3.
Tinggi tanaman
pertanaman diukur dari permukaan tanah sampai titik tumbuh tertinggi, pada minggu
keempat, keenam dan kedelapan.
b.
Pengamatan
panen yaitu:
1.
Jumlah umbi per tanaman, dihitung semua
umbi yang terbentuk pada setiap tanaman.
2.
Berat segar
umbi per tanaman (g), semua umbi yang ada pada tanaman ditimbang.
Variabel pendukung berupa, analisa kimia tanah
dilakukan sebelum tanam dan sesudah panen kentang. Analisis
dilakukan di Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana
Kupang. Analisa kimia meliputi N, P, K, C organik, dan pH.
DAFTAR PUSTAKA
Asandhi, A. A. dan N. Gunandi. 1985. Syarat Tumbuh
Tanaman Kentang, p. 20-27. Dalam Kentang. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Balai Penelitian Hortikultura. Lembang.
Ashari, S. 1995.
Hortikultura Aspek Budidaya.
Universitas Indonesia Press.
Jakarta. pp. 485.
Chlan, C.A. and Robert P. Bourgeois. 2001.
Class I Chitinase in Cotton (Gossypium
hirsutum) : characterization, expression and purification. Plant Science
161 : 143-145.
Darung.
1998. Pengaruh Waktu Pemberian
Kapur Dan Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Panen Kedelai Pada Tanah
Gambut Pedalaman Kalimantan. http://images.soemarno.multiply.com/attachment/0/RfusgAoKCpkAAFVNQQ1/KDELAI2.doc?nmid=22330493
Tidak ada komentar:
Posting Komentar