Jumat, 30 Oktober 2015

PROPOSAL TENTANG PENELITIAN HAMA PADA TANAMAN KENTANG


JANGAN LUPA KOMEN NYA :)
PROPOSAL
PENELITIAN HAMA PADA KENTANG




 







DISUSUN
OLEH
RIYAN GUSRIYADI
XII ATP
SMA 1 RENGAT
T.P 2015/ 2016

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah, hanya kepada-Nya kita memuji, memohon pertolongan dan meminta ampunan. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada seorang pun yang dapat menyesatkannnya. Sebaliknya, barang siapa yang disesatkan-Nya, maka tiada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.
Kami  hanya dapat berdoa, kiranya apa yang saya tulis disini bermanfaat bagi kita semua. Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Kami  sadar bahwa apa yang kami tulis masih sangat jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kritikan dan saran yang sifatnya membangun dari para pembaca sangat saya harapkan.
Akhir kata, mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan dalam makalah ini. Dan hanya kepada Allah swt kita berlindung dan memohon ampun.







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………….…………….  i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………  ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................. 1
1.1.Latar Belakang.................................................................................................. 1
1.2. Tujuan Penelitian ............................................................................................. 3
1.3.Tujuan Penelitian............................................................................................... 3
1.4.Kegunaan Penelitian.......................................................................................... 3
1.5.Hipotesis Penelitian............................................................................................ 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................... 5
2.1  Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Kentang.......................................... 5
2.2. Taksonomi  dan Morfologi Tanaman Kentang................................................... 7
2.3.Pupuk Organik.................................................................................................. 9
2.4. Trichoderma sp............................................................................................... 11
BAB III METODE PENELITIAN................................................................................. 14
3.1. Waktu dan Tempat........................................................................................... 14
3.2. Alat dan Bahan ................................................................................................ 14
3.3.Rancangan dan Analisis Data............................................................................. 14
3.4.Prosedur pelaksanaan........................................................................................ 15
3.5.  Variabel Pengamatan........................................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 19


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Kentang (Solanum tuberosum L) adalah tanaman sayuran penghasil umbi dari famili Solanacea.  Pengembangan agribisnis kentang sangat strategis, karena dapat meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani, menunjang program penganekaragaman (diversifikasi) pangan. Keadaan tersebut mengakibatkan permintaan pasar meningkat maka perlu perluasan areal penanaman kentang di dataran medium (Setiadi, 2003). Subhan dan Asandhi (1998) menyatakan bahwa budidaya kentang di dataran tinggi secara terus menerus dapat merusak lingkungan terutama terjadinya erosi dan  menurunkan produktivitas tanah. Perluasan areal penanaman kentang di daerah dataran tinggi merupakan salah satu langkah yang dapat diupayakan untuk membantu peningkatan pendapatan petani di daerah tersebut (Suryanto, 2003).
Budidaya kentang di dataran tinggi tidak lepas dari kendala-kendala yang dihadapi, diantaranya adalah faktor pemupukan.  Asandhi (1996) dalam  Lehar (2012) menyatakan bahwa pengembangan produksi kentang di dataran tinggi (1.631 m dpl) menghadapi beberapa kendala seperti suhu tinggi, serangan Phythopthora infestans dan  Nematoda Sista Kuning (NSK) dan pola tanam yang memerlukan perbaikan.
Penggunaan pupuk anorganik untuk memacu produktivitas tanaman ternyata mengakibatkan tertinggalnya residu pada tanah sehingga kadar bahan anorganik tanah turun. Pemanfaatan bahan organic pupuk dilakukan  untuk memperbaiki sifat fisik tanah. Bahan organik tersebut dapat berupa pupuk kandang dan pupuk kompos yang mana dekomposisi bahan organik tersebut memungkinkan pembentukan agregat tanah yang selanjutnya akan memperbaiki peredaran udara tanah (Lehar, dkk, 2012). 
Luas panen kentang berdasarkan Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura  Propinsi Nusa Tenggara Timur  dari tahun 2008-2012  yaitu 323 (ha), 162 (ha), 129 (ha), 41(ha),  85(ha). Data produksi dari  Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura  Propinsi Nusa Tenggara Timur dari tahun 2007-2011 untuk (ton) yaitu 1.288,  3.068, 1.476, 542, 162. Rendahnya hasil tanaman kentang di NTT  antara lain disebabkan karena penggunaan pupuk dan sistem budidaya yang masih sederhana dan ketergantungan petani pada penggunaan pupuk  anorganik dan penggunaan bahan kimia dalam pengendalian organisme penganggu tanaman.
Salah satu upaya untuk mencapai hasil tanaman kentang yang optimal dengan tetap mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah serta menghindarkan dampak yang merugikan dari penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan  dengan  pemberian pupuk organik yang berasal dari pupuk kandang dan pupuk organik lain dalam bentuk cair. Pupuk organik membantu memperbaiki kesuburan tanah dan memberikan kandungan hara tanah, akibat terjadi penguraian lebih lanjut secara fisik, kimia maupun biologi tanah (Najamuddin dan Akil, 2006) 
Hama dan penyakit yang dilakukan hanya sebatas pada sanitasi untuk mendukung perkembangan tanaman, karena pengendalian secara kimia mahal. Selain itu, penggunaan senyawa kimia bukan merupakan alternatif yang terbaik, karena sifat racun yang terdapat dalam senyawa tersebut dapat meracuni manusia, ternak piaraan serangga penyerbuk musuh alami tanaman serta lingkungan yang dapat menimbulkan polusi bahkan pemakian dosis yang tidak tepat bisa membuat hama dan penyakit menjadi resisten. Penggunaan mikroorganisme antagonis sebagai agen pengendali hayati seperti Trichoderma sp memberikan harapan karena mampu mengendalikan patogen dan mempercepat proses dekomposer bahan organik dalam tanah (Ernawati, 2003). 
Wijaya (2002) menyatakan bahwa pemberian Trichoderma sp secara langsung pada kondisi kecukupan bahan organik dari pupuk organik, baik itu pupuk organik padat maupun pupuk organik cair  maka Trichoderma sp  dapat  memperbanyak diri  dan menembus sistem perakaran.  Kondisi ini menghasilkan  mekanisme partahanan tanaman tertentu sehingga memperkuat sistem pertahanan tanaman melawan serangan patogen.
1.2. Perumusan Masalah
Masalah yang  diteliti pada penelitian ini adalah apakah  pemberian pupuk organik dan Trichoderma sp dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil kentang.
1.3.Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk organik tertentu dan Trichoderma sp, terhadap pertumbuhan dan hasil kentang.

1.4.Kegunaan Penelitian
Penelitian diharapkan sebagai bahan informasi dan masukan bagi masyarakat dalam mengusahakan  budidaya  tanaman  kentang dan informasi untuk penelitian lanjutan.

1.5.Hipotesis Penelitian
Hipotesis dari penelitian  ini adalah terdapat pengaruh pemberian  pupuk organik tertentu dan Trichoderma sp terhadap pertumbuhan dan hasil kentang.

.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Kentang
Tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) ialah tanaman semusim yang berbentuk semak. Kentang termasuk tanaman yang dapat tumbuh di daerah tropika dan subtropika, dapat tumbuh di ketinggian 500-3000 m dpl.
Permadi et al. (1989) menyatakan bahwa ada tiga tahap pertumbuhan tanaman kentang yaitu (1) tahap dari umbi bibit ditanam sampai menjadi tanaman muda, (2) tahapan dimulainya pertumbuhan autropi dimana pertumbuhan tanaman di bagian atas tanah mendominasi semua pertumbuhan, dan (3) tahapan dimulai pembentukan umbi yang berlangsung sampai tanaman menua dan mati.
Ashari (1995) menyatakan bahwa tanaman kentang memiliki lima tahap pertumbuhan yaitu (1) tahap pertumbuhan tunas, pada tahap ini mata tunas umbi mulai aktif tumbuh menembus permukaan tanah dan akar adventif tumbuh pada dasar mata tunas, (2) tahap pertumbuhan vegetatif, pada tahap kedua ini daun dan cabang tanaman utama mulai tumbuh dan berkembang, akar juga berkembang dan stolon mulai tumbuh demikian juga proses fotosintesis mulai aktif, (3) tahap pertumbuhan umbi, pada tahap ini umbi kentang mulai terbentuk pada ujung akar stolon namun belum berkembang secara aktif, (4) tahap pertumbuhan dan pembesaran umbi, pada tahap ini sel pada umbi mulai aktif tumbuh dan berfungsi sebagai penyimpan pati, air dan nutrisi lain, selanjutnya umbi menjadi organ dominan sebagai tempat penyimpan karbohidrat serta nutrisi anorganik, dan (5) tahap pemasakan, pada tahap ini tanaman mulai layu, daun menguning dan mulai rontok, pertumbuhan umbi lambat dan batang tanaman mulai mati.
Soelarso (1997) menyatakan bahwa ada tiga stadium pertumbuhan tanaman kentang  yaitu  (1) stadium  ini terjadi 12-13 hari setelah penanaman, tunas akan muncul dipermukaan tanah bersamaan tumbunya stolon, sekitar 25 hari setelah bertunas, stolon mencapai jumlah terbanyak setelah stadium primordia bunga, batas umbi akan memanjang dengan cepat (2) stadium tertinggi pertumbuhan, stadium ini terjadi pada 10-20 hari setelah tunas tumbuh, bentuk primordia bunga sudah dapat dilihat, ujung stolon mulai membentuk umbi, sekitar 20-25 hari setelah bertunas, umbi mulai membesar dan pada stadium ini jumlah umbi kentang sudah dapat diperhitungkan, umbi akan terus membesar sampai daun-daun mati, pertumbuhan batang paling aktif adalah pada sekitar 25-30 hari setelah bertunas, biasanya pertumbuhan batang terhenti pada 45-50 hari setelah bertunas, pada saat tersebut jumlah penyerapan air sangat tinggi jika air tidak mencukupi pertumbuhan tananaman akan turun dan hasil juga  akan turun (3) stadium penyempurnaan umbi, stadium ini terjadi sekitar 70-80 hari setelah bertunas, daun umumnya mulai menguning dan sekitar 10 hari kemudian mati, pembesaran umbi dapat berlangsung sampai daun mati, kentang yang telah dipanen akan memasuki masa dormansi.
Suwandi et al. (1998) menyatakan bahwa tanaman kentang dapat tumbuh dengan baik dan berproduksi, apabila ditanam pada keadaan lingkungan yang sesuai dengan persyaratan tumbuhnya.  Selanjutnya  Ashari (1995) menyatakan bahwa tanaman kentang dapat tumbuh pada beberapa jenis tanah, namun demikian tidak semua tanah dapat memberikan keuntungan yang sama.  Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah pH, larutan garam, unsur hara, dan tekstur tanah (proporsi liat dan bahan organik, pasir dan sebagainya) serta kondisi fisik tanah (terutama kekompakan tanah), pH tanah yang sesuai untuk penanaman kentang 6-7.  Tanaman kentang tumbuh dengan baik di daerah beriklim sedang atau dataran tinggi dengan tanah gembur sehingga merupakan kondisi yang tepat untuk pembentukan umbi.
Asandhi, et al. (1985) dan Sunarjono (2007) menyatakan bahwa tanaman kentang dapat tumbuh dan berproduksi baik pada dataran tinggi 500-3000  m dpl, dan yang terbaik pada ketinggian 1300 m dpl. Selanjutnya Pitojo (2004) menyatakan bahwa di Indonesia, tanaman kentang dapat tumbuh dengan baik mulai di daerah dataran medium sampai dataran tinggi yang memilki ketinggian antara 500-300 m dpl.

2.2.      Taksonomi  dan Morfologi Tanaman Kentang
Kalasifikasi tanaman kentang  menurut Rukmana (1997) sebagai berikut:
Kingdom
:
Plantae
Divisi
:
Spermatophyta
Sub devisi
:
Angiospermae
Kelas
:
Dicotyledoneae
Ordo
:
Tubiflorae
Famili
:
Solanaceae
Genus
:
Solanum
Spesies
:
Solanum tuberosum L.
Morfologi tanaman kentang menurut Samadi, (2007) sebagai berikut:
a.    Batang
Batang berbentuk segi empat atau segi lima, tergantung varietasnya. Batang kentang tidak berkayu dan bertekstur agak keras dengan permukaan batang halus, umumnya lemah hingga mudah roboh bila terkena angin kencang. Warna batang umunya hijau tua dengan pigmen ungu. Batang bercabang dan setiap cabang ditumbuhi oleh daun-daun yang rimbun. Ruas batang tempat tumbuhnya cabang mengalami penebalan. Batang berfungsi sebagai jalan zat-zat hara dari tanah ke daun dan menyalurkan hasil fotosintesis dari daun ke bagian tanaman yang lain.
b.    Daun
Daun tanaman berfungsi sebagai tempat proses asimilasi dalam rangka pembentukan karbonhidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Hasil dari fotosintesis atau asimilasi digunakan dalam bentuk vegetatif, pertumbuhan generatif, respirasi dan persediaan makanan (Samadi, 2007).
c.    Akar
Tanaman kentang memiliki perakaran tunggang dan serabut. Akar tunggang menembus tanah sampai kedalaman 45 cm, dan akar serabut tumbuh menyebar ke arah samping. Akar berwarna keputih-putihan dan berukuran sangat kecil. Di antara akar-akar ada yang nantinya berubah bentuk dan fungsi menjadi bakal umbi (stolon) yang selanjutnya menjadi umbi kentang. Akar tanaman berfungsi menyerap zat-zat hara dan untuk memperkokoh berdirinya tanaman.
d.   Bunga
Tanaman kentang ada yang berbunga ada yang tidak tergantung varietasnya. Warna bunga pun bervariasi. Bunga kentang tumbuh dari ketiak daun. Jumlah tandan juga bervariasi. Bunga kentang berjenis kelamin dua. Bunga yang telah mengalami penyerbukan akan menghasilkan buah dan biji. Buah berbentuk buni dan di dalamnya terdapat banyak biji.
e.    Stolon dan umbi Kentang
Umbi kentang secara morfologis merupakan modifikasi dari batang dan merupakan organ penyimpanan makanan utama bagi tanaman. Sebuah umbi mempunyai dua ujung, yaitu heel yang berhubungan dengan stolon dan ujung lawannya disebut apical/distal/rose (Soelarso, 1997). Mata umbi kentang sebenarnya adalah buku dari batang. Jumlah mata umbi 2-14 buah, tergantung pada ukuran umbi. Mata umbi tersusun dalam lingkaran spiral.

2.3.Pupuk Organik
Pupuk organik ialah  pupuk yang berasal dari sisa-sisa tanaman atau kotoran  hewan yang dikembalikan ke tanah dan mengalami proses penghancuran di alam (Hardjowijeno, 1992).  Pupuk organik berasal dari pelapukan bahan-bahan organik  tanaman dan hewan yang berguna sebagai sumber hara bagi tanaman serta sumber energi bagi organisme tanah (Poerwowidodo, 1993). Keuntungan pemberian pupuk organik  yaitu unsur hara yang dibebaskan secara bertahap selama proses penguraian bahan organik (Poerwowidodo, 1993).  Penyediaan hara dapat terjadi sepanjang musim selama proses penghancuran bahan organik berlangsung maka akan terjadi meningkatnya KTK tanah, penurunan fiksasi P, penurunan keasaman tanah dan menambah unsur hara mikro (Utami, 2002). Hairiah et al., (1996) menyatakan pemanfaatan bahan organik penting dalam memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Keadaan tanah yang optimal bagi pertumbuhan tanaman diperlukan bahan organik tanah paling sedikit 2%. 
Darung (1998) menyatakan bahwa penggunaan pupuk kandang (kotoran ayam dan kotoran sapi) mendatangkan manfaat terhadap pertumbuhan dan  hasil panen   tanaman kedelai.  Najamuddin et al., (2006) menyatakan bahwa  pupuk kandang dengan takaran 3 ton/ha nyata lebih baik pengaruhnya terhadap pertumbuhan maupun biomasa tanaman jagung tertinggi 64 ton/ha pada umur 70 hari setelah tanam, dengan keuntungan sebesar Rp. 2.000.034/ha.
Pupuk organik juga ada yang dalam bentuk cair yang biasa diberikan melalui daun untuk menambah dan menyempurnakan pemberian pupuk melalui akar atau tanah terutama dalam keadaan tertentu dimana daya serapan akar terhadap unsur-unsur hara berkurang karena tercuci atau terikat oleh partikel tanah (Subhan, 1990). Pupuk organik cair mengandung unsur hara makro dan mikro, adapula yang mengandung tambahan berupa zat pengatur tumbuh.  Zat pengatur tumbuh merupakan senyawa organik, tidak termasuk nutrisi, yang pada konsentrasi aplikasi sangat rendah mampu merangsang, menghambat atau atau memodifikasi berbagai proses fisiologis tanaman.  Nutrisi didefinisikan sebagai bahan yang menyuplai tanaman dalam bentuk energi atau elemen mineral penting (Weaver, 1972 dalam Sumiati, 2000). 
Subhan (1990) menyatakan bahwa pengunaan pupuk cair Bayfolan yang memilki komposisi 11% N, 10 % P2O5, 6 % K2O serta dilengkapi unsur hara mikro Fe, Mn, Cu, Zn, Co, No, gelatin dan zat penyangga, pada tanaman kentang varietas Granola memberikan hasil bahwa perlakuan waktu dan konsentrasi memberikan pengaruh terhadap bobot umbi tanaman dimana dengan waktu pemberian  satu minggu satu kali dan satu minggu dua kali memberikan rata-rata bobot umbi tertinggi sedangkan perlakuan konsentrasi yang memberikan bobot umbi tertinggi adalah 1 cc/l air dan 2 cc/l air.  Perlakuan waktu dan konsentrasi pemberian pupuk daun memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman pada umur 45 hst tetapi tidak berbeda terhadap tinggi tanaman pada umur 60, 75, dan 90 hst dari tiap-tiap perlakuan.
Santoso (1994) menyatakan bahwa, penggunaan 10 ton ha pupuk kotoran ayam dapat meningkatkan hasil tanaman kentang sekitar 28% dibanding tanpa dipupuk kotoran ayam yang mencapai hasil sekitar 15,4 ton umbi ha.  Selanjutnya Darung (1998) menyatakan bahwa penggunaan pupuk kandang (kotoran ayam dan kotoran sapi) mendatangkan manfaat terhadap pertumbuhan dan hasil panen tanaman kedelai.
2.4. Trichoderma sp
Trichoderma sp ialah mikroorganisme antagonis yang penting dari golongan jamur/cendawan yang menghasilkan khitinase (Tsujibo, et al., 1992 dalam Wijaya, 2002). Khitinase dan enzim-enzim hidrolitik lainnya yang dihasilkan oleh mikroorganisme antagonis Trichoderma sp merupakan gen-gen yang menyediakan enzim hidrolitik yang dapat melemahkan dan menghidrolisis dinding sel patogen yang mengandung senyawa glucan, chitin dan protein dan dapat menimbulkan ketahanan tanaman terhadap serangan patogen melalui kemampuannya menonaktifkan kemampuan  patogen  memperbanyak diri, menyebar dan membentuk reaksi hipersensitif untuk  melokalisasi  serangan 
Khitinase dari mikroorganisme antagonis Trichoderma sp menghasilkan ketahanan pada tanaman transgenik terhadap serangan patogen disebabkan kemampuan khitinase dalam menghidrolisis dinding sel jamur yang penyusun utamanya terdiri dari senyawa glucan, chitin dan protein (van Loon and van Strein, 1999, Odjakova and Hadjivanova, 2001; Hidalgo, 2004;). Selain menghasilkan khitinase, Trichoderma sp dapat menghasilkan glukanase yang merupakan  enzim  yang  menghidrolisis ß–1,3 glukan, yang merupakan komponen utama penyusun dinding sel jamur dan bakteri (Chlan et al., 2001; Kollar et al., 1997).
Boing (1982) dalam Wijaya (2002) menyatakan bahwa keberadaan suatu substrat dapat memacu suatu mikroorganisme untuk mensekresi metabolit selnya.  Selain khitin, dinding sel jamur juga tersusun atas ß–1,3 glukan sebagai komponen kerangka sel dan α-glukan sebagai komponen yang berfungsi menguatkan sel.  Selanjutnya Thrane, et al., (1997) menyatakan bahwa aktifitas ß–1,3 glukanase ketika ditumbuhkan bersama dengan sel jamur antagonis Pitheum ultimum, yang merupakan jamur antagonis dari Trichoderma harzianum.
Lorito, et al., (1994) menyatakan bahwa enzim khitinase yang dihasilkan Trichoderma sp terbukti lebih efektif dari pada enzim khitinase yang dihasilkan oleh organisme lain dalam menghambat berbagai jamur patogen tanaman.
Penggunaan mikroorganisme antagonis terhadap P. solanacearum sudah banyak dilakukan pada berbagai jenis tanaman baik secara percobaan di laboratorium maupun di lapang. Populasi P. solanacearum penyebab penyakit layu pada kentang, dapat ditekan dengan menggunakan Trichoderma sp. sebesar 36% (Gunawan, 1995). Trichoderma sp juga berpotensi mengendalikan P. solanacearum pada tanaman  tomat (menekan 23,4 –100%), dan kacang tanah (menekan 57,8 –71,1%) ( Ernawati 2003).
Tarno et al., (2007) menyatakan bahwa pemberian 149,1 g serbuk kulit udang/pot (kitin 1%) mampu menekan populasi sista, juga  ditemukan bahwa ada tiga spesies jamur tanah yang berpotensi dapat menekan populasi Nematoda Sista Kuning (NSK), yakni Paecilomyces sp, Trichoderma sp, dan Glioclaudium sp.
Purwantisari (2007) menyatakan bahwa biofungisida yang ramah lingkungan, ialah biofungisida trichodermin dan gliocladin yang bahan bakunya terdiri dari bahan aktif dari makhluk hidup berupa konidia beberapa jenis jamur isolat lokal (indigenous). Beberapa jenis jamur isolat lokal yang telah berhasil dikemas dan diaplikasikan sebagai bahan baku biofungisida tersebut adalah Trichoderma harzianum, gliocladium sp, aspergillus niger. Keunggulannya adalah sebagai pengendali hayati (biokontrol) penyakit yang disebabkan oleh jamur yang menyerang tanaman palawija, sayuran, dan buah-buahan.











BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei sampai Agustus 2013, bertempat di kebun petani Desa Nuamuri, Kecamatan Kelimutu Kabupaten Ende.  Lahan percobaan tersebut berada pada ketinggian 1.631 m dpl,  jenis tanah Andosol.  Perbedaan amplitudo suhu harian rata-rata berada dalam ambang 60°C, dimana suhu terpanas pada siang hari adalah 33°C dan suhu udara malam hari memiliki suhu terendah pada titik 23°C. Kelembaban nisbi berada dalam kisaran rata-rata 85%. dengan rata-rata curah hujan per tahun 2.171 mm.

3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan antara lain cangkul, parang, tangki semprot, timbangan, gelas ukur, pengaris, buku, dan alat tulis
Bahan percobaan meliputi bibit kentang varietas Granola, pupuk organik kotoran ayam, kotoran sapi, pupuk organik cair Biota Plus, pupuk organik cair K Bioboost,  Trichoderma sp, fungisida Funiram 80 W dan pupuk anorganik  N, P, K Phonska.  Bibit  kentang didapat dari petani kentang di Desa Nuamuri, Kecamatan Kelimutu,  abupaten Ende.
3.3. Rancangan dan Analisis Data
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Petak Terbagi (RPT), terdiri dari dua faktor yang diulangi 3 kali.
Faktor pertama sebagai petak utama ialah  agen hayati (Trichoderma sp). 
T0=  Kontrol (Fungisida anorganik) 
T1=  Agen hayati (Trichoderma sp)
Faktor kedua sebagai anak petak ialah :        
P1=  Kotoran ayam 20 ton ha (20.000.kg : 10.000. x 5(luas lahan)=10kg/bedeng
P2=  Kotoran sapi 20 ton ha (20.000.kg : 10.000. x 5(luas lahan)=10kg/bedeng
P3=  Pupuk Biota Plus            
P4=  Pupuk organik cair K Biobosst
P5= Pupuk standar NPK Phonska 250 kg ha=(250:10.000. x 5(luas lahan)=5g/bedeng
Sehingga ada 10 kombinasi perlakuan dengan jumlah keseluruhan 30 petak percobaan. Tata letak petak pengamatan dapat dilihat pada Lampiran 1.Untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang diberikan, data hasil penelitian dianalisis dengan analisis ragam yang dilanjutkan dengan uji Duncan  pada taraf  5%,

3.4.Prosedur pelaksanaan
Kegiatan penelitian meliputi tahap-tahap sebagai berikut:
1.    Persiapan bahan tanam
Bahan tanam yang digunakan ialah bibit umbi kentang bertunas  varietas Granola yang berukuran ± 25 gram.
2.    Persiapan lahan
Lahan diolah dengan dicangkul hingga gembur dan bersih dari gulma, kedalaman olah yaitu 30-40 cm. Bedengan dibuat dengan ukuran  1 x 5 m. Dan tinggi bedeng 30 cm,  jarak antar bedeng 30 cm.
3.    Penanaman      
Bedengan disiram secukupnya kemudian dibuatkan lubang tanam dengan kedalaman 5 cm dengan jarak tanam 50 x 40 cm untuk penaman bibit kentang. Selanjutnya bibit ditanam kemudian ditutup dengan tanah

3.4.1. Teknik Pemberian Pupuk Organik dan Trichoderma sp
Pemberian pupuk organik dan agen Trichoderma sp sebagai berikut:
1.    Pemberian pupuk kotoran sapi
Pupuk kotoran sapi diberikan satu kali yaitu satu minggu sebelum penanaman dengan cara ditebarkan secara merata pada bedengan percobaan dengan dosis 10 kg/bedengan percobaan.
2.    Kotoran ayam
Pupuk kotoran ayam diberikan satu kali yaitu satu minggu sebelum penanaman dengan cara ditebarkan secara merata pada bedengan percobaan dengan dosis 10 kg/bedengan percobaan.
3.    Pemberian pupuk organik cair Biota Pluss
Pupuk organik cair Biota Pluss diberikan setelah tanaman berumur 14 hari setelah tanam, selanjutnya setiap 10 hari sampai tanaman berumur 70 hari setelah tanam dengan konsentrasi 3 cc / 10 liter air.
4.    Pemberian pupuk organik cair K Biobosst
Pupuk organik cair K Biobosst diberikan setelah tanaman berumur 14 hari setelah tanam, selanjutnya setiap 10 hari sampai tanaman berumur 70 hari setelah tanam dengan konsentrasi 3 cc / 10 liter air.
5.    Pemberian pupuk standar NPK Phonska
Pupuk standar NPK Phonska diberikan setelah tanaman berumur 14 hari setelah tanam, selanjutnya setiap 10 hari sampai tanaman berumur 70 hari setelah tanam dengan dosis 5 gram/bedeng.
6.    Pemberian Trichoderma sp
Trichoderma sp diberikan satu minggu sebelum tanam dan setelah tanaman tumbuh diberikan setiap dua hari sekali sampai tanaman berumur 70 hari setelah tanam dengan cara disiramkan ke tanah dengan dosis 10 cc / liter air dengan jumlah populasi mikroba 5,8 x 109 per satu ml
 3.4.2.Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan tanaman adalah sebagai berikut: penyiraman, penyiangan dan pembumbunan.
a.    Penyiraman
Tanaman disiram 2 kali seminggu, jika media masih basah tidak perlu disiram.
b.    Penyiangan
Penyiangan dilakukan bersamaan dengan pembumbunan, pembumbunan dilakukan 30 hari setelah tanam dengan cara menimbun bagian pangkal tanaman dengan tanah hingga terbentuk guludan–guludan yang lebih tinggi dari tanah di sekelilingnya.  Pembumbunan selanjutnya melihat kedaan pertumbuhan tanaman di lapangan.
3.4.3. Panen
Panen dilakukan jika tanaman sudah menguning dan mengering daunnya, batang berwarna coklat kekuningan atau batang sudah agak kering dan umbi tidak mudah lecet.  Kentang Granola di panen pada saat berumur 115 hari setelah tanam.  Sebelum panen tanaman kentang dipangkas sampai pangkal batang di atas permukaan tanah dan dibiarkan selama 2 minggu, kemudian umbi dipanen dengan cara digaru mengunakan tangan dan diambil hati-hati agar umbi tidak terluka.

3.5.  Variabel Pengamatan
Variabel pengamatan dalam penelitian ini ada 2 yaitu variabel utama dan variabel pendukung.  Variabel utama meliputi:
a.     Karakter pertumbuhan tanaman secara non dekstruktif yaitu:
1.     Jumlah daun dihitung  pada  empat minggu setelah tanam, minggu keenam dan pada minggu kedelapan dari jumlah daun yang sudah membuka sempurna.
2.    Jumlah cabang dihitung yang telah terbentuk sempurna, pada minggu keempat, keenam dan kedelapan.
3.    Tinggi tanaman pertanaman diukur dari permukaan tanah sampai titik tumbuh tertinggi, pada minggu keempat, keenam dan kedelapan.
b.    Pengamatan panen yaitu:
1.     Jumlah umbi per tanaman, dihitung semua umbi yang terbentuk pada setiap tanaman.
2.    Berat segar umbi per tanaman (g), semua umbi yang ada pada tanaman ditimbang.
Variabel pendukung berupa, analisa kimia tanah dilakukan sebelum tanam dan sesudah panen kentang. Analisis dilakukan di Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana Kupang.  Analisa kimia meliputi N, P, K, C organik, dan pH.


DAFTAR PUSTAKA
Asandhi, A. A. dan N. Gunandi.  1985.  Syarat Tumbuh Tanaman Kentang, p. 20-27. Dalam Kentang.  Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balai Penelitian Hortikultura.  Lembang.

Ashari, S.  1995.  Hortikultura Aspek Budidaya.  Universitas Indonesia Press.  Jakarta.         pp. 485.

Chlan, C.A. and Robert P. Bourgeois.  2001.  Class I Chitinase in Cotton (Gossypium hirsutum) : characterization, expression and purification. Plant Science 161 : 143-145.
Darung.  1998.  Pengaruh Waktu Pemberian Kapur Dan Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Panen Kedelai Pada Tanah Gambut Pedalaman Kalimantan.  http://images.soemarno.multiply.com/attachment/0/RfusgAoKCpkAAFVNQQ1/KDELAI2.doc?nmid=22330493



Tidak ada komentar:

Posting Komentar